News.lppm.umuslim.ac.id (23-10-2026)
Editor: Wien Manan
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Dr. Fauzan Adziman, ST., M.Eng., Ph.D, menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin ilmu dan kemitraan multipihak dalam mendorong riset yang menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
Hal ini dinyatakannya saat menjadi keynote speech, pada acara The 5th International Conference on Multidisciplinary Academic Studies (ICoMUS) 2026 yang berlangsung di Universitas Terbuka Convention Center Tangerang Selatan, Kamis (22/10/2026).
Di hadapan akademisi dari 11 perguruan tinggi pada kegiatan ICoMUS) 2026 bertemakan Smart Innovations for Sustainable Development: Integrating Science, Social, Economic, and Future Education Perspectives”, Dr Fauzan menyatakan;
“Inovasi tidak dapat dibangun secara terpisah. Penggabungan berbagai disiplin ilmu, mulai dari matematika, fisika, dan rekayasa hingga ilmu sosial, ekonomi, dan komunikasi, diperlukan untuk mengembangkan solusi yang lebih komprehensif serta memperluas dampak riset”
Kolaborasi lintas disiplin dapat menghasilkan penerapan teknologi di berbagai sektor. Seperti kita ketahui, dalam pengembangan material saja, pasti melibatkan matematika, fisika, dan rekayasa, yang dapat mendukung berbagai kebutuhan, mulai dari industri kedirgantaraan dan otomotif hingga perangkat medis, urai diaspora technopreneur Indonesia di Oxford, Inggris ini.

Fauzan juga menyatakan, perkembangan artificial intelligence turut mengubah lanskap riset, industri, dan kebutuhan kompetensi tenaga kerja. Dalam situasi tersebut, penguasaan keterampilan teknis perlu diimbangi dengan kemampuan pemecahan masalah, kreativitas, dan ketangguhan (resilience). Penguatan talenta menjadi faktor penting agar Indonesia tidak hanya mengadopsi teknologi, tetapi juga mampu menciptakan teknologi melalui inovasi.
Maka peran perguruan tinggi sebagai penggerak inovasi nasional, perlu segera disipakan di implementasikan yang diharapkan mampu menghubungkan pengembangan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan industri dan persoalan masyarakat.
“Harapan saya, orientasi riset perlu diarahkan pada permasalahan nyata yang membutuhkan penyelesaian, dengan mempertimbangkan kebutuhan industri, kondisi sosial, serta karakteristik dan potensi daerah. Dan melalui kolaborasi dalam konsorsium riset, para peneliti dari berbagai latar belakang keilmuan dapat bekerja bersama untuk menghasilkan solusi yang relevan dengan kebutuhan nasional” tambahnya.
Melalui forum ICoMUS 2026 ini, kolaborasi multidisipliner diharapkan semakin memperkuat ekosistem riset nasional yang terintegrasi dan berorientasi pada pemecahan masalah. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan masyarakat menjadi langkah penting untuk memastikan hasil riset dapat dikembangkan menjadi inovasi yang memberikan manfaat nyata serta mendukung pembangunan Indonesia yang berkelanjutan, pungkas Dirjen Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek. (#)

