LPPM Universitas Almuslim dan HIPKA Aceh Perkuat Kolaborasi:

Lakukan Pengabdian Masyarakat Bersama dalam Program Pemulihan Pascabanjir

News.lppm.umuslim.ac.id (05-10-2026)

Dalam kegiatan tersebut, HIPKA Aceh menyalurkan bantuan kebutuhan pokok kepada masyarakat terdampak, sementara Universitas Almuslim memberikan dukungan dalam pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat melalui penyediaan satu unit sumur bor untuk membantu akses air bersih.

“Alhamdulillah, tim pengabdi LPPM Umuslim Bersama HIPKA Aceh, telah mensepakati Kerjasama. Program yang sama-sama dilakukan tersebut, bagian dari upaya membangun kerja sama kelembagaan yang lebih terarah antara kedua pihak” sebut Kepala LPPM, Dr. drh. Yusrizal Akmal, M.Si.

Pada pertemuan sebelum aksi, kedua pihak telah meneken MoU maupun MoA sebagai pondasi dasar pengembangan kerja sama kedua lembaga. Dan atas dasar ini, diimplementasikan  menjadi langkah penting dalam membangun kolaborasi yang lebih sistematis dan berkelanjutan.

Secara khusus dalam bidang Pengabdian kepada Masyarakat, sekaligus membuka ruang bagi pengembangan berbagai program kolaboratif lainnya yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, tambah Dr. Yusrizal.

Kepala LPPM, menyampaikan bahwa kemitraan dengan HIPKA Aceh memiliki arti penting dalam memperkuat pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat yang langsung dapat melibatkan dosen pengabdi di Universitas Almuslim.

(Foto: Ketua HIPKA Aceh, Zulfikar ZB Lidan)

Sementara itu, pihak HIPKA Aceh yang dipimpin Zulfikar ZB Lidan juga berharap Kerjasama yang telah diteken tidak berhenti pada penandatanganan dokumen saja. MoU harus diterjemahkan menjadi kegiatan nyata, terukur, dan memiliki dampak langsung kepada masyarakat, dan juga dengan Lembaga.

Program pascabanjir bandang (Hidrometeorologi) yang berdampak juga di Krueng Beukah menjadi salah satu bentuk bagaimana semangat kerja sama antara Universitas Almuslim dan HIPKA Aceh mulai diarahkan pada kebutuhan nyata masyarakat.

Menurut pengamatan LPPM Umuslim, yang dari awal bencana telah terjun ke daerah berdampak – khususnya di kabupaten Bireuen, kegiatan pascabanjir merupakan salah satu bidang yang membutuhkan kolaborasi banyak pihak.

Perguruan tinggi memiliki sumber daya akademik, dosen, mahasiswa, hasil penelitian, dan program pengabdian. Sementara itu, HIPKA memiliki jejaring yang luas, termasuk dengan kalangan dunia usaha dan berbagai elemen masyarakat.

“Ketika kekuatan tersebut kita kolaborasikan, Pengabdian kepada Masyarakat tidak lagi hanya menjadi kegiatan rutin perguruan tinggi, tetapi dapat berkembang menjadi sebuah gerakan bersama yang memberikan dampak lebih besar,” tambahnya.

Ke depan, LPPM Universitas Almuslim bersama HIPKA Aceh diharapkan dapat juga bisa mengembangkan kegiatan yang lebih luas, tidak hanya dalam bentuk respons terhadap bencana, tetapi juga program pemberdayaan ekonomi masyarakat, pendampingan UMKM, kesehatan masyarakat, pendidikan, lingkungan, ketahanan bencana, peningkatan kapasitas masyarakat, serta berbagai program lain yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Apalagi kita dapatkan informasi, Himpunan Pengusaha Kahmi memiliki 12 badan pengurus daerah di seluruh kabupaten/kota di Aceh, dan konsen kuat pada tema “kolaborasi pengusaha untuk memperkuat perekonomian Aceh”.

Kolaborasi tersebut juga dapat menjadi ruang bagi keterlibatan dosen dan mahasiswa Universitas Almuslim dalam menerapkan ilmu pengetahuan secara langsung di tengah masyarakat.

Karena Tri Dharma Perguruan Tinggi tidak hanya berbicara mengenai pendidikan dan penelitian, tetapi juga bagaimana pengetahuan, keahlian, sumber daya, dan jejaring yang dimiliki universitas dapat digunakan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat, sebut Kepala LPPM Umuslim.

LPPM Universitas Almuslim Serius Kelola PkM Pascabencana Hidrometeorologi

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Almuslim (LPPM Umuslim) memberikan perhatian khusus terhadap pengembangan program Pengabdian kepada Masyarakat yang berkaitan dengan pemulihan pascabencana, terutama setelah bencana banjir yang berdampak terhadap sejumlah wilayah di Kabupaten Bireuen dan sekitarnya.

Hal ini disebutkan Kepala LPPM, Dr. drh. Yusrizal Akmal, M.Si, pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) yang dilaksanakan atas Kerjasama Umuslim dan HIPKA Aceh di Gampong Krueng Beukah, Kecamatan Peusangan – Sabtu (03/10/2026).

Bagi LPPM Umuslim, penanganan pascabencana tidak cukup dilakukan hanya pada masa tanggap darurat. Setelah bantuan darurat selesai disalurkan, masyarakat masih menghadapi berbagai persoalan lanjutan, mulai dari akses air bersih, sanitasi, kesehatan, lingkungan, pendidikan, pemulihan mata pencaharian hingga kondisi ekonomi keluarga.

Atas dasar itu, LPPM terus mendorong dosen dan mahasiswa Universitas Almuslim agar program PkM yang dikembangkan dapat menjawab kebutuhan tersebut secara lebih sistematis, dan bermanfaat ganda.

“Bantuan pembangunan sumur bor bagi masyarakat Krueng Beukah menjadi salah satu contoh konkret pendekatan tersebut. Air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat dan memiliki hubungan langsung dengan kesehatan, sanitasi, serta kualitas kehidupan masyarakat pascabencana” tambah Dr Yusrizal.

Kehadiran HIPKA Aceh dan Universitas Almuslim di tengah masyarakat Gampong Krueng Beukah, selain pembangunan sumur bor air bersih, turut mengirim bantuan logistik. Diantaranya, HIPKA Aceh menyalurkan bantuan yang berasal dari HIPKA Pusat berupa beras, minyak makan, dan gula kepada 91 kepala keluarga. Sementara Universitas Almuslim memberikan dukungan berupa satu unit sumur bor untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.

Kolaborasi tersebut memperlihatkan pendekatan yang saling melengkapi. Bantuan kebutuhan pokok membantu masyarakat memenuhi kebutuhan jangka pendek, sedangkan penyediaan fasilitas air bersih diarahkan untuk memberikan manfaat yang lebih berkelanjutan.

Ketua HIPKA Aceh, Zulfikar Lidan, dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa Krueng Beukah merupakan salah satu wilayah yang cukup parah terdampak banjir dan masyarakat masih membutuhkan dukungan dalam proses pemulihan.

LPPM Universitas Almuslim memandang kedekatan geografis dan sosial dengan masyarakat menjadi tanggung jawab tersendiri bagi universitas untuk hadir dan mengambil peran dalam proses pemulihan. Dan pengabdian yang baik harus dimulai dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, ujar Dr Yusrizal.

“Kita ingin mengarahkan Pengabdian kepada Masyarakat di Universitas Almuslim menjadi semakin berbasis kebutuhan dan berbasis dampak. Masyarakat bukan hanya menjadi lokasi kegiatan, tetapi menjadi mitra. Kita melihat persoalannya, kita identifikasi kebutuhannya, kemudian bersama-sama mencari solusi yang dapat dilaksanakan dan dipertahankan,” jelasnya.

Program seperti yang dilaksanakan di Krueng Beukah tersebut, memiliki nilai penting karena memperlihatkan hubungan langsung antara perguruan tinggi dan masyarakat.

Kita juga berterimakasih kepada pengurus HIPKA Aceh, yang telah bersama-sama mengimplementasikan PkM berdampak, sesuai arahan MendiktiRistek.

“Universitas Almuslim memberikan apresiasi kepada HIPKA Aceh atas komitmen dan kolaborasi yang telah dibangun bersama LPPM Universitas Almuslim”, sebut Dr Yusrizal.

Kerja sama Universitas Almuslim dan HIPKA Aceh juga diarahkan untuk menjadi contoh bahwa dokumen kerja sama perguruan tinggi harus memiliki tindak lanjut yang konkret. Dengan berpegangan pada dasar MoU menguatkan pondasi kelembagaan. Sedangkan program-program Pengabdian kepada Masyarakat menjadi salah satu bentuk implementasinya.

Karena itu, LPPM Universitas Almuslim terus memperkuat tata kelola Pengabdian kepada Masyarakat agar kegiatan PKM tidak hanya berorientasi pada pemenuhan luaran administratif, tetapi juga menghasilkan outcome dan dampak nyata bagi masyarakat. (*)

By Redaksi