Penelitian Tanpa Arah Hanya Rutinitas: Mengapa Roadmap Keilmuan Sangat Penting?
Oleh: Rahmi Hayati, M.Pd.
Bireuen, 8 Mei 2026
Di tengah derasnya tuntutan publikasi ilmiah, akreditasi, hibah kompetitif, dan capaian kinerja dosen, dunia akademik hari ini menghadapi satu persoalan serius: banyak penelitian berjalan tanpa arah yang jelas. Judul berganti setiap tahun, tema berubah mengikuti tren sesaat, dan pengabdian kepada masyarakat sering kali hanya menjadi agenda seremonial untuk memenuhi administrasi. Akibatnya, penelitian kehilangan daya transformasinya, sementara pengabdian masyarakat gagal meninggalkan dampak jangka panjang.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan teknis akademik, tetapi krisis orientasi keilmuan.
Tidak sedikit perguruan tinggi yang produktif menghasilkan publikasi, namun minim kontribusi nyata terhadap persoalan masyarakat. Penelitian dilakukan sekadar mengejar luaran, bukan menjawab kebutuhan zaman. Pengabdian dilaksanakan demi laporan kegiatan, bukan sebagai proses pemberdayaan berkelanjutan. Kampus akhirnya sibuk bergerak, tetapi tidak benar-benar maju.

Di sinilah pentingnya roadmap penelitian dan pengabdian berbasis bidang keilmuan.
Roadmap bukan dokumen formalitas untuk memenuhi borang akreditasi atau syarat administrasi hibah. Roadmap adalah peta jalan intelektual yang menentukan ke mana arah penelitian dibawa, masalah apa yang ingin diselesaikan, dan kontribusi apa yang ingin diwariskan kepada masyarakat. Tanpa roadmap, penelitian hanya menjadi kumpulan aktivitas yang tercerai-berai tanpa kesinambungan.
Hari ini kita menyaksikan banyak dosen meneliti topik yang sama sekali tidak berkaitan dengan kepakarannya. Seorang ahli pendidikan matematika tiba-tiba meneliti pemasaran digital karena tema itu sedang populer. Peneliti bidang sosial beralih ke kecerdasan buatan tanpa fondasi keilmuan yang memadai. Bahkan tidak jarang proposal penelitian lebih ditentukan oleh “tema hibah yang sedang dibuka” dibanding kebutuhan pengembangan ilmu itu sendiri.
Akibatnya, kualitas riset menjadi dangkal, tidak konsisten, dan sulit membangun rekam jejak akademik yang kuat.
Padahal, perguruan tinggi yang maju di dunia justru dibangun oleh konsistensi roadmap keilmuan. Para peneliti fokus mengembangkan bidang tertentu selama bertahun-tahun hingga melahirkan pusat unggulan riset, inovasi berkelanjutan, dan solusi konkret bagi masyarakat. Mereka tidak sekadar mengejar jumlah publikasi, tetapi membangun identitas akademik yang jelas.
Indonesia membutuhkan lebih banyak akademisi yang memiliki “benang merah” keilmuan, bukan peneliti musiman yang berpindah-pindah tema demi mengejar insentif.
Roadmap juga penting agar penelitian dan pengabdian tidak berjalan sendiri-sendiri. Selama ini, keduanya sering dipisahkan secara kaku. Penelitian selesai di jurnal, sementara pengabdian hanya berbentuk pelatihan singkat tanpa basis riset yang kuat. Padahal, penelitian seharusnya melahirkan solusi, dan pengabdian menjadi ruang implementasi solusi tersebut di tengah masyarakat.
Jika dosen meneliti pembelajaran berbasis budaya lokal, maka pengabdiannya semestinya juga memperkuat implementasi budaya lokal di sekolah dan masyarakat. Jika penelitian fokus pada literasi digital, maka pengabdian harus hadir dalam bentuk pendampingan transformasi digital bagi guru, UMKM, atau komunitas. Inilah ekosistem tridharma yang ideal: riset melahirkan inovasi, pengabdian menghadirkan dampak.
Selain itu, roadmap keilmuan menjadi sangat penting di era kecerdasan buatan dan disrupsi digital saat ini. Dunia berubah cepat. Banyak pekerjaan akan tergantikan teknologi. Perguruan tinggi tidak bisa lagi hanya menjadi “pabrik ijazah” yang sibuk dengan rutinitas administratif. Kampus harus menjadi pusat produksi pengetahuan dan solusi masa depan.
Namun itu hanya mungkin jika riset dilakukan secara terarah, berkelanjutan, dan sesuai kompetensi keilmuan.
Ironisnya, masih ada budaya akademik yang lebih menghargai kuantitas dibanding kualitas. Dosen didorong menghasilkan banyak penelitian dalam waktu singkat, tetapi tidak diberi ruang membangun roadmap jangka panjang. Akibatnya, penelitian menjadi fragmentaris, kehilangan kedalaman, dan sulit menghasilkan inovasi besar.
Kita perlu mengubah paradigma ini.
Sudah saatnya perguruan tinggi membangun budaya akademik yang lebih visioner. Setiap program studi perlu memiliki peta jalan riset yang jelas dan relevan dengan kebutuhan masyarakat serta perkembangan global. Setiap dosen perlu memperkuat identitas kepakarannya, bukan sekadar mengikuti tren. Setiap kegiatan pengabdian harus lahir dari hasil penelitian yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.
Karena pada akhirnya, penelitian bukan sekadar kewajiban administratif. Penelitian adalah investasi peradaban. Dan tanpa arah yang jelas, penelitian hanya akan menjadi rutinitas tahunan yang sibuk di atas kertas, tetapi sunyi dampak di kehidupan nyata.

